Selasa, 02 Oktober 2012


Sistem Sastra

Menurut Pratt Sinter untuk berhasil membaca karya sastra , memahami, dan menafsirkannya orang harus siap mental dan tahu tentang konvensi yang dimiliki karya sastra. Konvensi adalah aturan sosial, sesuatu yang  disetujui/disepakati masyarakat. Diantara konvensi-konvensi di bidang sastra yang harus diketahui  adalah sistem sastra. Sistem sastra merupakan asas, prinsip, dan norma-norma sastra yang sudah tersusun secara teratur yang harus disepakati. Walaupun karya sastra merupakan satu bangunan atau struktur yang berisi berbagai macam ilmu pengetahuan, secara universal tidak mungkin lepas sepenuhnya dari sistem sastra yang ada. Pada sisi lain, sistem sastra sifatnya longgar. Hal ini disebabkan karya sastra merupakan karya individual.
Adapun sistem sastra yang patut diketahui agar dapat melakukan penafsiran dalam rangka memproduksi makna menurut  Fananie ( 2000: 23 – 62  adalah:  konvensi bahasa, konvensi sastra,  dan aliran sastra. Selain tiga hal itu, Teeuw  ( 1984:95-119) menambahkan konvensi budaya, jenis sastra /genre, dan teks sastra sebagai sistem sastra. Sejalan dengan Teeuw  dan Fananie di atas, Pradopo ( 2002: 47-63)   menambahkan kerangka kesejarahan: hubungan intertekstual sebagai salah satu sistem sastra yang perlu mendapat perhatian apabila akan menafsirkan karya sastra dengan kerangka semiotik., Keseluruhan sistem sastra itu sebagaimana diuraikan berikut ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar